BERDA'WAH SEPERTI RASULULLAH صلى الله عليه وسلم

🌴BERDAKWAH SEPERTI RASULULLAH🌴
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

📝 Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Afifuddin hafidzahulloh

🇸🇦✅ Cara Dakwah adalah Tauqifiyyah

✌  Dari dua prinsip di atas, yaitu prinsip dakwah adalah ibadah dan prinsip ibadah harus disertai rasa Ikhlas dan mengikuti Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, para ulama menyatakan bahwa wasilah (cara) dakwah adalah tauqifiyyah yakni harus dengan contoh dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

🚫 Tidak boleh bagi siapapun untuk membuat wasilah dakwah sesuai dengan hawa nafsunya, sesuai dengan hizb, golongan, partainya, atau masyarakat tempat ia berada.

📖 Prinsip di atas akan semakin gamblang bila ditambah argumentasi-argumentasi berikut :

▪a. Allah subhanahu wata'ala telah menyempurnakan agama ini, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Al-Ma`idah: 3)

🔁 Maka segala permasalahan yang berkaitan dengan agama dan keduniaan yang dibutuhkan oleh umat manusia, semua telah dibahas dalam agama ini, baik secara nash Al-Quran dan As-Sunnah maupun dalil-dalil umum, yang merupakan suatu kaidah yang mencakup beragam permasalahan baik masalah akidah, tauhid, ibadah, dakwah, akhlak, maupun muamalah.

🆕⛔ Sehingga kaum muslimin pada khususnya tidak perlu lagi ideologi-ideologi Dajjal dari Barat dan Timur dalam urusan agama dan dunia mereka. Wallahul muwaffiq.

▪b. Allah subhanahu wata'ala telah mewajibkan kepada umat manusia dan kaum muslimin pada khususnya untuk menaati Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan mengaitkan kebahagiaan seseorang dengan sikap taat pada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tersebut.

⬅❌Sebaliknya, Allah subhanahu wata'ala melarang manusia untuk bermaksiat kepada beliau shalallahu alaihi wa sallam dan mengaitkan sikap tersebut dengan kesengsaraan bagi orang yang melakukannya.

🌾 Banyak ayat yang menerangkan tentang prinsip agung ini, di antaranya yaitu:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(An-Nisa`: 69)

Dan firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”
(Al-Jin: 23)

🔏 Maka, konsekuensi dari ketaatan ini adalah kita menaati dan mengamalkan Sunnah-sunnah beliau, termasuk di dalamnya Sunnah beliau di dalam berdakwah kepada Allah subhanahu wata'ala.

▪c. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umat ini untuk mengerjakan segala kebaikan dan melarang dari setiap kejelekan, menghalalkan untuk mereka segala perkara yang thayyib (baik) dan melarang dari perkara yang khabits (jelek).

Ini merupakan sifat kenabian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sebagaimana disebut-kan dalam firman Allah subhanahu wata'ala :

“Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”
(Al-A’raf: 157)

Allah subhanahu wata'ala juga berfirman tentang Nabi-Nya :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (Asy-Syura: 52-53)

📢 Di dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhumaa , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan menjadi kewajibannya untuk menunjuki umatnya segala kebaikan yang dia ketahui untuk mereka, dan melarang mereka dari segenap kejelekan yang dia ketahui untuk mereka.”

🚦Bila tiga prinsip di atas telah dipahami, maka kit
a dengan mantap bisa memastikan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya wasilah-wasilah dakwah baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun keduanya.

📜 Bagaimana mungkin Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan demikian jelas memaparkan kepada umatnya tentang adab-adab buang hajat, namun sama sekali tidak menyinggung masalah wasilah dakwah yang mana agama ini tidak tegak dan lurus tanpa amalan tersebut (dakwah)?

📋☑ Penjelasan-penjelasan dan praktek beliau inilah yang harus dijadikan sebagai konsep baku secara syar’i dalam berdakwah dan memilih wasilah dakwah.

🛣✔ Dengan cara inilah orang-orang yang menyimpang diluruskan, orang-orang yang bingung dalam beragama diberi bimbingan.

👣 Cara inilah yang ditempuh Rasulullah n untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, tauhid, As-Sunnah, dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata'ala.

🛤 Jalan inilah yang ditempuh oleh para shahabat yang mulia, para tabi’in, dan para ulama Ahlus Sunnah sepanjang masa di manapun mereka berada. Bahkan mereka bersikap sangat keras dalam mengingkari siapa saja yang menyelisihi prinsip ini atau mengada-adakan cara baru dalam hal yang mulia ini.
Tidak ada jalan lain untuk mewujudkan masyarakat yang Islami seperti yang pernah terjadi di masa shahabat melainkan dengan wasilah-wasilah syar’i dan upaya-upaya yang selaras dengan Manhaj Salaf.

📢 Hal ini sebagaimana pernah ditegaskan oleh Al-Imam Malik rahimahullah :

“Tidak ada (cara) yang bisa memperbaiki keadaan akhir umat ini kecuali dengan (cara) yang telah membuat baik generasi awal (umat ini).”

🚧 Menambah-nambahi prinsip syar’i di atas dengan wasilah-wasilah baru (baca: bid’ah) yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berarti berupaya untuk menambahi syariat Islam yang telah sempurna dan ini merupakan tindakan yang keluar dari jalan kaum mukminin.

Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya memberi ancaman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)

❌↩ Amalan ini sia-sia lagi tertolak, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anhaa bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam agama ini perkara yang bukan bagian darinya (dari agama), maka amalan tersebut tertolak.”

🗒 Ringkas kata, dakwah ilallah terdiri dari dua unsur, yaitu tujuan (ghayah)



📚 Sumber : asysyariah.com/berdakwah-seperti-rasulullah

📡 Join Channel Telegram klik http://bit.ly/salafymedia

#tholibulilmicikarang #dakwahlillah

____________________________
almuwahhidiin.salafymedia.com
📚 طالب العلم جيكارنج

⛳ Dipublikasikan pada :
Selasa, 13 Rajab 1437 H / 19 April 2016 M, pukul 19.06 WIB

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI :

CIRI CIRI AD DABBAH

KESESATAN ZAKIR NAIK