DA'WAH BUTUH KESABARAN

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
( Edisi 20 )

Sepenggal kisah kehidupan di bumi Manado. Sejak tiba pertama di Manado hari Jum'at petang, sampai pulang di hari Senin siang, saya kini sering merenungkan arti dan makna kesabaran. Rupanya, kesabaran adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan dakwah. Dakwah Salafiyyah mesti dibangun dengan material kesabaran. Tanpa kesabaran, keinginan untuk berdakwah tidak akan jauh dari kegagalan.

Masjid atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Mushalla, tempat kajian Islam di Manado dipusatkan, posisinya benar-benar ditengah pemukiman padat. Dulu sering disebut dengan masjid Fastabiqul Khairat. Namun lama-kelamaan orang mulai melupakan sebutan tersebut. Adapun sekarang ini lebih populer dengan nama Masjid As Sunnah.

Dari jalan utama kota Manado, untuk menuju kesana kita harus melewati lorong-lorong sempit. Kurang lebih berjalan seratus meter, lalu berbelok ke kiri. Beberapa belas meter kemudian harus berbelok ke lorong yang lebih kecil di bagian kanan. Benar-benar sebuah pemukiman yang super padat. Warung-warung dan rumah-rumah yang berdempet-dempetan, anak-anak kecil yang berlarian, suara tertawa dan cekikian, semua itu seakan menjadi santapan wajib ketika menuju masjid As Sunnah.

Letak masjid berada di tepi sungai yang membelah kota Manado. Zaman dahulu kala area masjid tersebut merupakan rawa-rawa. Oleh sebab itu bangunan yang didirikan harus menggunakan konsep rumah panggung. Semula rumah panggung tersebut hanya digunakan sebagai tempat pengajian saja. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya bangunan itu diubah-fungsikan menjadi masjid. Sampai sekarang, kayu-kayu dan papan-papan yang digunakan sebagai lantai dan dinding belum direnovasi karena masih bagus. Papan kayu yang digunakan memang terbilang kokoh dan awet.

Bagian kolongnya yang semula kosong, kini telah dimodifikasi menjadi beberapa ruang. Sebagian difungsikan untuk kelas dan tempat istirahat, sebagian yang lain digunakan untuk dapur, kamar mandi, tempat berwudhu dan lain-lain. Sebuah halaman besar untuk parkir tersedia di bagian depan bangunan. Melihat gambar garis-garisnya, nampak lapangan parkir itu sering digunakan sebagai arena olahraga bulutangkis.

Awalnya, masjid yang sejak pendiriannya dimotori oleh keluarga besar Ustadz Adnan Hafidzahulloh itu diserahkan tata kelola-nya kepada sebuah ormas Islam. Hanya saja, dikemudian waktu, pengelolaannya dipandang tidak begitu maksimal. Oleh karenanya setelah kepulangan Ustadz Adnan dari Yaman, masjid tersebut oleh keluarga besarnya diserahkan kepada Ustadz Adnan untuk dikelola dan dimakmurkan.

Sama dengan ditempat lain, dan itu memang telah menjadi sunnatullah, bahwa dakwah Salafiyyah pasti mengalami fase cobaan yang berat. Tak terkecuali pula yang terjadi di Manado.

Artinya, ketika Anda mengalami masa-masa sulit dalam dakwah, ingat-ingatlah bahwa anda tidak sendirian. Dan memang demikianlah yang semestinya untuk dijalani.

Beberapa gangguan muncul dari berbagai pihak. Masjid As Sunnah bahkan pernah dilempari batu oleh orang-orang yang tidak suka. Kasus pemalakan atau penodongan juga pernah dialami oleh ikhwan saat melewati lorong-lorong sempit menuju masjid. Apa yang waktu itu dinasehatkan oleh Ustadz Adnan? Bagaimana pula reaksi ikhwan-ikhwan?

Bersabar adalah jawabannya. Sikap kasar mereka tidak lantas dibalas dengan emosi atau reaksi yang kasar pula. Saudara-saudara kita di Manado tetap dalam diam sabarnya. Bukan diam terpaksa, juga bukan diam karena tidak mampu membalas. Andai ingin melawan apa susahnya? Namun, apakah kita melupakan tuntunan Rasulullah Shallallohu'alaihi wasallam untuk bersikap sabar dalam berdakwah?
Hasilnya?
Setelah beberapa tahun. Dengan terus mengedepankan sikap sabar, menebarkan perilaku yang baik dan tingkah diri yang sopan, masyarakat pun mulai simpati. Mereka tidak lagi menampakkan wajah garang seperti awal-awalnya. Bahkan, satu persatu dari tetangga masjid dan masyarakat di sana mulai aktif menghadiri majelis ilmu yang diselenggarakan di masjid As Sunnah. Bahkan termasuk juga beberapa orang yang dulu pernah melakukan pemala kan.

Subhaanallah! Mereka yang dulu pernah membenci, kini akhirnya bergabung di barisan Ahlus Sunnah. Apa sebabnya? Itu semua adalah buah dari kesabaran.

ooooo_____ooooo

Cerita di atas bukanlah satu-satunya cerita.
Dulu pernah ada rencana untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan di luar kota Manado. Lahan telah dibeli, kurang lebih dua hektar. Berbagai persiapan dilakukan. Namun, administrasi di Sulawesi Utara yang mayoritasnya nasrani menjadi ganjalan terbesar dalam proses selanjutnya. Lokasi tersebut berada di sebuah kampung muslim kecil di tengah-tengah lebatnya kaum nasrani. Berjarak beberapa puluh kilometer dari pusat kota.

Disamping sulitnya mengurus perijinan, masih ditambah lagi dengan sikap masyarakat muslim sendiri yang berada di kampung tersebut pun bersikap antipati. Akhirnya kesabaran lagi-lagi menjadi senjata. Lahan yang semula direncanakan untuk kegiatan pendidikan, terpaksa dialih-fungsikan sebagai tambak-tambak ikan air tawar.

Ustadz Adnan sebenarnya sudah sering beraktifitas di kampung tersebut. Namun, rupanya masyarakat masih terus dalam kecurigaannya.

Hingga pada puncaknya, Ustadz Adnan dipukul dan ditendang oleh seorang oknum masyarakat. Saya tahu persis kalau sebenarnya Ustadz Adnan mampu untuk membela diri, melawan dan mengalahkan orang tersebut. Sebab saya mengetahui bahwa beliau mempunyai dasar ilmu bela diri yang mumpuni. Namun, apa yang beliau lakukan?

Beliau Hafidzahulloh lebih memilih bersabar, merelakan tubuhnya untuk dihajar.

Membela diri memang penting, membela diri memang boleh dilakukan. Namun, membela nama baik dakwah jauh lebih penting, membela nama baik dakwah wajib hukumnya. Apalah artinya diri ini, dan betapa rendahnya harga diri pribadi jika dibandingkan dengan kemuliaan dakwah! Bisa saja kita membalas dan memuaskan emosi, namun setelah itu apa? Apa akibatnya? Nama baik dakwah harus tercoreng.

Setelah insiden tersebut, Ustadz Adnan justru malah membagi-bagikan hasil panenan tambak kepada masyarakat sekitar. Beberapa karyawan tambak juga direkrut dari masyarakat lokal. Hasil panen tambak dijual kepada para pengepul asli di lokasi tersebut.

Masya Allah! Sungguh sebuah kesabaran diatas kesabaran. Bukan perbuatan kasar yang beliau balaskan, malah berbagai kebaikan yang beliau tanamkan.

Sekarang?
Ustadz Adnan telah diterima dengan baik. Terbukti siang itu, ketika saya bersama rombongan mengadakan acara bakar-bakar ikan di tambak, kami melaksanakan shalat dzhuhur di masjid yang dulu menjadi saksi bisu peristiwa pemukulan dan penendangan terhadap Ustadz Adnan. Saya menyaksikan dengan kedua mata saya sendiri bahwa masyarakat meminta Ustadz Adnan untuk maju menjadi imam. Dulu dipukul sekarang diminta menjadi imam shalat.

Inilah inti dari yang tadi saya katakan di paragraf pertama, "Sejak tiba pertama di Manado hari Jum'at petang, sampai pulang di hari Senin siang, saya kini sering merenungkan arti dan makna kesabaran. Rupanya, kesabaran adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan dakwah. Dakwah Salafiyyah mesti dibangun dengan material kesabaran. Tanpa kesabaran, keinginan untuk berdakwah tidak akan jauh dari kegagalan.”

Di sebuah percakapan media sosial yang membahas tentang kesabaran dalam berdakwah, saya sempat menulis :

"Apapun ujian dakwah, dalam berat, sulit dan berlikunya, masihlah belum seberapa apabila dibandingkan dengan ujian yang pernah dilalui para sahabat. Ketika beberapa sahabat menyampaikan kepada Rasulullah, beliau ingatkan kita semua :

"Sungguh! Dahulu pada umat sebelum kalian, ada yang ditanam hidup-hidup lalu dibelah tubuhnya dari arah kepala menggunakan gergaji”.
Sekarang ini, ujian yang saudara-saudara hadapi apakah ada yang lebih dahsyat dari itu? Namun, kitanya saja yang semestinya meningkatkan kesabaran. Bersabarlah saudaraku, surga itu amatlah dekat”.

Setelah itu, saya menambahkan :

“Untuk renungan kita, apakah saudara-saudara pernah dipukul, ditendang atau mungkin dicubit karena berkomitmen terhadap manhaj Salaf? Terkadang hanya karena beberapa patah kata dari mereka yang membenci dakwah lantas membuat tak nyenyak tid ur, hati sempit atau pikiran galau. Ah ..... apalah artinya itu semua jika dibandingkan tubuh yang dibelah dengan gergaji hidup-hidup?”

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Jumat 22 April 2016
Lendah, Kulonprogo

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI :

CIRI CIRI AD DABBAH

KESESATAN ZAKIR NAIK