SHOLAWAT YANG BENAR SESUAI DENGAN APA YANG DI AJARKAN OLEH NABI صلى الله عليه وسلم

📋🆖❌ Beberapa Kesalahan Seputar Shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
———————————————————————

⏺ Kedua

🚫 Termasuk di antara kesalahan yang banyak dilakukan kaum muslimin dalam bershalawat kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penambahan lafadz “sayyidina” (baginda kami).

⛔ Lafadz ini sama sekali tidak pernah diriwayatkan dalam hadits-hadits yang sahih. Jika hal ini disyariatkan, tentu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada para sahabatnya.

⚠ Oleh karena itu, telah dinukilkan pengingkaran atas hal ini dari sebagian ulama. Termasuk di antaranya adalah salah seorang ulama besar bermazhab asy-Syafi’iyyah yaitu al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah.

🔰 Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Gharabili—murid yang selalu mendampingi al-Hafizh Ibnu Hajar—menukilkan :

❓Telah ditanya ( al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah,-red ) tentang cara bershalawat kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam baik di dalam maupun di luar shalat, baik dikatakan wajib atau sunnahnya (dibaca di waktu tersebut), apakah disyaratkan padanya untuk menyifati beliau dengan “sayyid”, misalnya dikatakan,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

‘Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Sayyidina Muhammad’, atau,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِ الْخَلْقِ

‘Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin seluruh makhluk’, atau‘kepada pemimpin anak cucu Adam’?

Ataukah cukup dengan mengucapkan‘Ya Allah, berikanlah shalawat kepada
Muhammad’?

❓Mana yang lebih afdal?

Menyebutkan lafadz sayyid karena itu adalah sifat yang melekat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau tidak menyertakannya karena tidak ada dalam riwayat?

✅ Beliau menjawab, “Ya, mengikuti lafadz yang telah ma’tsur (ada riwayatnya) itu lebih rajih (kuat). Dan janganlah seseorang berkata, ‘Jangan-jangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan itu karena sikap tawadhu beliau sebagaimana beliau tidak pernah menyebut dirinya dengan tambahan ‘shallallahu alaihi wasallam’, sedangkan umatnya dianjurkan mengucapkan hal ini setiap (nama) beliau disebutkan’.

📢 Karena itu, kita katakan, ‘Sekiranya (penyebutan sayyidina) itu lebih rajih, tentu ada (riwayat) dari para sahabat kemudian dari tabi’in. Kita belum mendapati satu pun riwayat dari salah seorang sahabat. Tidak pula para tabi’in mengucapkan hal itu dari sekian banyak riwayat mereka dalam hal ini.’

✅ Inilah al-Imam asy-Syafi’i—semoga Allah meninggikan derajatnya, dan beliau termasuk orang yang paling banyak dalam mengagungkan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau berkata dalam pembukaan kitabnya yang merupakan sandaran kitab para pengikut mazhabnya, ‘Allahumma shalli‘alaa Muhammad’, dan seterusnya.”

✅ Demikian pula al-Qadhi ‘Iyadhrahimahullah. Ia telah mengkhususkan satu bab tentang cara bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitabnya asy-Syifa dan menukilkan beberapa riwayat yangmarfu’ dari beberapa sahabat dan tabi’in. Namun tidak satu pun riwayat dari kalangan sahabat dan lainnya dengan lafadz “sayyidina”.

✅ Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, setelah menyebutkan perkataan al-Hafizh, “Apa yang telah menjadi pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah tentang tidak disyariatkannya tambahan ‘sayyidina’ dalam bershalawat adalah karena mengikuti perintah yang mulia.

✅ Inilah yang menjadi pegangan para pengikut mazhab Hanafi. Inilah yang sepantasnya kita berpegang dengannya, sebab merupakan pertanda kejujuran kita atas kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ

“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)

✅ Oleh karena itu, al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnyaar-Raudhah,

“Shalawat yang paling sempurna kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammad…”

tanpa menyebutkan lafadz ‘sayyidina’.”

(Shifat Shalat an-Nabi, karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullah, hlm. 172—175)

 
📝 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

📕 Sumber :
asysyariah.com/shalawat-nabi-antara-sunnah-dan-bidah-2

__________________________________________
almuwahhidiin.salafymedia.com
📚 طالب العلم جيكارنج

⛳ Dipublikasikan pada :
Selasa, 19 Rajab 1347 H atau 26 April 2016 M, pukul 07.17 WIB

Komentar

Posting Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI :

CIRI CIRI AD DABBAH

KESESATAN ZAKIR NAIK