PENGKHIANATAN KOMPLOTAN P.K.I

Tukpencarialhaq:
⚠Jas Merah G30S PKI [26]⚠
💥GAGALNYA UPAYA BUNG KARNO UNTUK MENGHILANGKAN JEJAK (BACA: MENGAMBIL & MENYINGKIRKAN) BUKTI JENAZAH² PARA JENDERAL AD YANG DIBUNUH OLEH KOMPLOTAN G-30-S/PKI💥

Masih terkait dengan sepak terjang "Bidan" kelahiran PANCASILA KOM(UNIS) 1 JUNI, Bung Karno.

⭐Penemuan Jenazah di Lubang Buaya

Dalam melakukan pencarian terhadap para perwira tinggi dan perwira pertama Angkatan Darat yang diculik,  perhatian pertama RPKAD tertuju ke daerah Lubang Buaya. Hal itu disebabkan sejak beberapa bulan sebelumnya daerah itu telah menjadi pusat pelatihan Sukarelawan/Sukarelawati yang berasal dari Pemuda Rakyat, Gerwani dan ormas-ormas lainnya yang berada di bawah naungan PKI.

Selain itu ketika terjadi pertempuran antara Yon-454/Raiders Jawa Tengah dengan RPKAD di dekat Pondok Gede, Mayor C.I. Santosa yang mengendarai toyota kanvas dari arah Jatiwaringin menuju Pondok Gede melihat orang-orang berseragam hijau dan masa rakyat yang merobohkan tenda-tenda di desa Lubang Buaya. Perkiraan yang didasari oleh alasan-alasan logis itu akhirnya menemui titik terang berkat informasi seorang penduduk kampung Lubang Buaya yang mencium perbuatan keji PKI di tempat itu.

Perkiraan Lubang Buaya menjadi tempat penampungan hasil penculikan terhadap para perwira Angkatan Darat,  dikuatkan oleh agen Polisi II Sukitman, yang sempat diculik oleh G-30-S/PKI. Tetapi akhirnya ia dapat melarikan diri. Ia diikat,  ditutup matanya dan dibawa entah kemana, kemudian ia dimasukkan ke dalam rumah. Di situ terdengar teriakan-teriakan, maki-makian orang banyak yang sedang menyiksa tawanan dan akhirnya mereka menembaki para tawanan.

📷
Gambar 1. Suryati (19  tahun)  anggota Gerwani yang mengakui telah menembak Jenderal Ahmad Yani.

Berdasar pada informasi itu, maka pada tanggal 3 Oktober Mayor C.I. Santosa memerintahkan Kompi Ben Hur dibawah pimpinan Kapten Oerip Soetjipto sebagai Komandan Kompi dengan pengawasan Mayor Sumardji, Wadanyon-1 RPKAD, membawa Agen Polisi Sukitman ke Lubang Buaya untuk mencari dan menemukan jenazah Perwira Tinggi dan Perwira Pertama Angkatan Darat yang diculik.

Pada pukul 11.00 Mayor C.I Santosa menyusul ke Lubang Buaya untuk mengawasi pencarian dan memberikan petunjuk selanjutnya. Dalam melakukan pencarian sejak pukul 06.00 setiap ada gundukan tanah yang baru digali, setiap semak belukar, rumah-rumah yang mencurigakan diperiksa. Tetapi tanpa hasil. Pada pukul 13.00 petugas pencari diistirahatkan untuk makan siang.

Mayor C.I. Santosa bermaksud beristirahat di rumah gedeg (bambu), yaitu rumah Bambang Hardjono seorang guru di dekat sumur maut Lubang Buaya yang semula digunakan untuk menyekap korban penculikan. Secara tidak sengaja ia menginjak tanah yang gemanya lain dari tanah di sekitarnya.
Mayor C.I. Santosa segera memerintahkan anggota pasukannya untuk menggali tanah yang belum dilepas dari injakan kakinya. Oleh karena tanah belum padat, sehingga memudahkan untuk digali.

📷
Gambar 2. Jenderal Suharto dan salah seorang asistennya disamping rumah Bambang Hardjono saat menantikan selesainya pengangkatan jenazah para Jenderal AD

(02)
Pada kedalaman satu meter ditemukan daun singkong yang belum layu dan mulai tampak bulatan sempit yang menunjukkan bahwa tanah yang sedang digali itu sebuah sumur. Penggalian diintensifkan lagi dengan meminjam cangkul, tali temali, keranjang dan bantuan tenaga penduduk setempat.
Setelah penggalian lebih dalam lagi, ditemukan pita berwarna merah, kuning dan hijau seperti yang sehari sebelumnya tampak dipakai oleh pasukan yang terlibat G-30-S/PKI.

Menjelang Maghrib, penggalian mencapai sekitar 15 meter dan bau busuk mulai tercium. Anggota RPKAD yang diturunkan dengan tali, berteriak minta dinaikkan. Setelah ia ditarik sampai ke bibir sumur, ia berteriak, "Kaki". Kemudian ia terkulai lemas.

Mayor C.I. Santosa menulis dalam memoirnya,

"Rasa haru,  sedih dan gembira bercampur-baur. Tak terasa air mata meleleh. Sedih, karena merasakan dan menilai sedemikian kejam dan biadapnya perlakuan terhadap perwira tinggi Angkatan Darat, tega mencampakkannya ke dalam sumur.
Terharu dan gembira, karena telah didapatkan bukti bahwa di situlah tempat yang telah sehari penuh dicari dan diperiksa dengan teliti."

Akhirnya Mayor C.I. Santosa memutuskan menghentikan penggalian untuk sementara, karena hari sudah gelap dan secara teknis diperlukan kedok oksigen, tambahan tali-temali, penyiapan peti jenazah dan lain-lain. Ia melaporkan melalui radio penemuan bukti kaki dan keperluan tambahan peralatan kepada Kolonel Sarwo Edhie. Komandan RPKAD menjawab, "Trimakasih. Laporan ini akan saya teruskan kepada Pak Harto".

Beberapa saat kemudian Kolonel Sarwo Edhie memberikan petunjuk lewat radio agar penggalian dihentikan dan dilanjutkan keesokan harinya. Pada pukul 09.00 Mayjen Suharto Pangkostrad, akan menyaksikan langsung penggalian jenazah di Lubang Buaya.

📷
Gambar 3. Jenderal Suharto dan Mayor C. I.  Santosa di Lubang Buaya

Sebagai tindak lanjut, maka Mayor C.I. Santosa memberikan perintah kepada Mayor Sumadji, Wadanyon-1 dan Kapten Oerip, Danki Ben Hur, "Hentikan sementara penggalian, amankan daerah ini, tidak dibenarkan siapapun dari kesatuan manapun memasuki daerah ini. Gilir pasukan untuk makan, mandi, istirahat dan jaga. " Mayor C.I. Santosa akan pulang sebentar ke rumah di Cijantung untuk mandi dan ganti pakaian. (1)

(03)
⭐Bung Karno Mengirim Team untuk Menghilangkan Bukti Jenazah² Para Jenderal Dan Perwira Pertama AD di Lubang Buaya

"Pada pukul 23.00 ketika Mayor C.I. Santosa kembali ke Lubang buaya, ia sangat terperanjat melihat lampu-lampu petromax menyala terang benderang dan dikerumuni sejumlah orang di sekitar sumur. Setelah ia mendekat, ternyata mereka terdiri dari para perwira Tjakrabirawa, Pasukan Pengawal
Presiden, diantaranya Kolonel CPM Maulwi Saelan, Mayor M.I. Sutaryo, Kapten Gaos, dan beberapa dokter AURI.

Mayor C.I. Santosa bertanya, "Mengapa tuan-tuan di sini. Mau apa dan untuk apa lampu petromax itu?"
Kolonel Saelan menjawab, "ATAS PERINTAH BUNG KARNO malam ini juga penggalian dan pengangkatan jenazah supaya diselesaikan."

Mendengar jawaban itu,  Mayor C.I. Santosa berbicara dengan nada marah dan kesal setengah menghardik,  "Sayalah yang bertanggungjawab di daerah ini. Saya tidak taati perintah siapapun kecuali perintah Pak Sarwo. Oleh karena itu saya harap Tuan-tuan tinggalkan daerah ini dan jangan coba-coba kembali lagi."

Hal itu dilakukan oleh Mayor C.I. Santosa, karena muncul firasat dan timbul kecurigaan, jangan-jangan apabila keadaan jenazah diangkat malam itu dan ternyata keadaannya sudah demikian rusak, para dokter AURI mungkin akan membuat visum et repertum yang sengaja dibuat lain dengan kenyataan yang ada, untuk menghilangkan jejak. Selain itu Mayor C.I. Santosa menyadari bahwa Tjakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden, pada tanggal 1 Oktober berada di sekitar istana bersama-sama dengan pasukan yang terlibat G-30-S/PKI. (2)

Dan demikianlah memang benar firasat Mayor C.I. Santosa sebab di kemudian hari terungkap dari hasil pemeriksaan terhadap mantan ajudan Bung Karno, Kolonel Bambang Widjanarko bahwa Bung Karno memang telah memerintahkan Kolonel Saelan (dengan timnya) untuk menghapus jejak/menghilangkan/menyingkirkan bukti jenazah² para perwira tinggi dan perwira pertama AD yang menjadi korban keganasan komplotan pemberontak PKI.

Simak nukilan hasil pemeriksaan Team Pemeriksa Pusat (Teperpu) berikut ini:

👓26. Apakah sdr. masih ingat bahwa Komandan Pangkalan Udara HALIM PERDANA KUSUMA, telah menyampaikan berita radiogram kepada Laksamana OMAR DANI.
A. Bilamana dan dimana radiogram tersebut disampaikan kepada Laksamana OMAR DANI dan apa isinja.
B. Apakah radiogram tersebut diteruskan Bung KARNO.
C. Siapa² sadjakah jang telah turut bersama-sama Bung KARNO dan Laksamana OMAR DANI mempersoalkan isi radiogram tersebut?
D. Kegiatan² apakah jang telah dilakukan oleh pimpinan Men Tjakrabirawa sehubungan dengan adanja radiogram tersebut atas perintah Bung Karno?

✒26.
A.  Saja tidak tahu pasti tentang radiogram tersebut, jang dapat saja terangkan adalah sebagai berikut:
Pada tanggal 2 Oktober 1965 sore saja mendengar dari Kolonel KARDJONO (Adjudan) atau Djenderal SABUR bahwa ada informasi/berita dari Halim jang melaporkan bahwa didekat Halim ditemukan bekas² jang kemungkinan besar menundjukkan ke arah djenazah.
Berita (radiogram) tersebut disampaikan kepada Laksamana OMAR DANI.

B. Kepada Bung KARNO djuga dilaporkan berita (radiogram) tersebut. Saja tidak tahu pasti siapa jang menjampaikannja.

C. Siapa² siapa sadja jang turut bersama-sama membitjarakan isi radiogram tersebut saja tidak tahu pasti. Pada sore itu di tempat Bung KARNO berada beberapa orang: Pak BANDRIO, pak LEIMENA, Laksamana OMAR DANI, Pak SABUR.
Pada saat itu di tempat Bung KARNO ada kegiatan untuk mengambil suara Bung KARNO dengan tape-recorder untuk menjatakan bahwa Bung KARNO dalam keadaan selamat.

(04)
D. Pada keesokan harinja, tanggal 3 Oktober 1965 saja mendengar berita² dari Kolonel SAELAN tentang kegiatan² Men Tjakrabirawa jang intinja sebagai berikut :

(1) Atas dasar berita radiogram tersebut di atas, Bung KARNO memerintahkan kepada Men Tjakrabirawa, Kolonel SAELAN dengan satu team, untuk menudju tempat dan mentjari djenazah².

(2) Karena hari sudah malam maka team tersebut membawa alat penerang (licht-agegraat)

(3) Setelah team tiba di tempat (Lobang Buaja) dan baru akan memulai kegiatannja, datanglah pasukan RPKAD di tempat itu.
Dengan datangnja pasukan RPKAD tersebut maka tugas jang diberikan oleh Bung KARNO kepada Kolonel SAELAN+Team untuk mengambil dan menjingkirkan djenazah mendjadi gagal.

(4) Menjingkirkan djenazah tersebut jang dimaksud adalah menghilangkan bekas². (3)

📷
Gambar 4. Dengan datangnja pasukan RPKAD tersebut maka tugas jang diberikan oleh Bung KARNO kepada Kolonel SAELAN+Team untuk mengambil dan menjingkirkan djenazah mendjadi gagal.

Demikianlah gambaran kejadian di atas sebagaimana firman Allah Ta'ala:
.....ِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ (52)

"...dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS.  Yusuf: 52)

Pada Berita Acara berikutnya:

👓29. Sehubungan dengan adanja perintah dari Bung KARNO kepada Kolonel SAELAN pada tanggal 2 Oktober 1965 sore di istana Bogor untuk menghilangkan/menghapuskan djedjak para Pati AD jang dibunuh oleh G-30-S/PKI di Lubang Buaja, harap sdr. djelaskan:

A. Siapakah jang mempunjai ide untuk tudjuan menghilangkan bekas² djenazah tersebut?
B. Bagaimana sikap dan reaksi dari para pedjabat² jang ada di istana Bogor pada waktu itu?

✒29. A. Mengingat:
(1) Telah adanja kesamaan niat antara Bung KARNO dan PKI untuk menjingkirkan Djenderal² Angkatan Darat, jang achirnja ternjata telah dibunuh;

(2) Telah diketahuinja oleh Bung KARNO mulai tanggal 1 Oktober 1965 malam tentang kegagalan G-30-S/PKI;

(3) Telah diterimanja laporan dari Komandan Halim atas ditemukannja tanda² ke arah mana djenazah² itu berada yakni di dekat Halim, jang berarti dekat sekali dengan tempat dimana Bung KARNO berada pada tanggal 1 Oktober 1965.

(05)
(4) Usaha PKI untuk membersihkan dirinja dari turut tjampurnja dalam G-30-S/PKI demi kelandjutan hidup PKI itu sendiri, maka djelaslah bahwa idea untuk menghilangkan bekas² djenazah tersebut adalah datang dari PKI jang disampaikan oleh SUPARDJO dan Djenderal SABUR kepada Bung KARNO.
Hal ini telah saja dengar dari Djenderal SABUR, Bung KARNO sendiri jang djelas merasa terlibat dalam penjingkiran Djenderal² AD tersebut, menerima dan menjetudjui idea itu dan achirnja memerintahkan Kolonel SAELAN untuk melaksanakan penjingkiran/menghilangkan bekas² djenazah.

Dengan tjara ini, kalau berhasil, akan dapat menutupi/menghilangkan segala bukti akan terlibat/tjampur tangan setjara langsung dari Bung KARNO dan PKI dalam G-30-S/PKI.

📷
Gambar 5. Pembodohan dan pengelabuan sejarah, contoh memalukan dalam membantah fakta dengan memainkan opini. Manuver tokoh PKB dalam menyingkirkan jejak bukti sejarah keterlibatan Bung Karno dalam komplotan G-30-S/PKI. JAS MERAH, JAngan Sekali-kali MEnipu sejaRAH.

Jang djelas mengetahui soal penjingkiran/membuang bekas djenazah itu adalah OMAR DANI dan Djenderal SABUR.

Kedua pedjabat itu menjetujui idea tersebut karena kedua²nja secara langsung telah terlibat dalam perentjanaan dan pelaksanaan penjingkiran Djenderal² AD atas perintah Bung KARNO.
Bagi OMAR DANI sendiri djuga akan merasa lebih tenang bila djenazah² itu tidak diketemukan di dekat Halim. (4)

📷
Gambar 6. Dengan tjara ini, kalau berhasil, akan dapat menutupi/menghilangkan segala bukti akan terlibat/tjampur tangan setjara langsung dari Bung KARNO dan PKI dalam G-30-S/PKI.

Telah benar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tatkala menjelaskan akibat bagi orang yang melakukan perbuatan dosa :

عن النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِىِّ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ: .... وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

رواه مسلم (2553)

"Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya." (HSR. Muslim no. 2553)

✒👣 Catatan Kaki
(1) Dewan Revolusi PKI, Menguak Kegagalannya Mengkomuniskan Indonesia, Hendro Subroto, Pustaka Sinar Harapan, 2007, hal. 130-133 (foto² di dalam makalah diambil dari buku ini).
(2) ibid, hal. 133
(3) Berkas Berita Acara Pemeriksaan Teperpu terhadap Kolonel KKO Bambang Setiono Widjanarko pada hari Sabtu, 3 Oktober 1970
(4) Berkas Berita Acara Pemeriksaan Teperpu terhadap Kolonel KKO Bambang Setiono Widjanarko pada hari Sabtu, 24 Oktober 1970

📌Waspadai infiltrasi penunggangan PKI ke berbagai oknum lini massa dengan memakai politik Semangka (kemasan luarnya hijau untuk menutupi dalamnya yang merah).

🔆👣🔆👣🔆👣🔆👣🔆
⚔🛡Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
📇 Klik ➡JOIN⬅ Channel Telegram: http://bit.ly/tukpencarialhaq
🌎 http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com

JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH!!!

JANGAN SEKALI-KALI MENIPU SEJARAH!!!

JANGAN SEKALI-KALI MEMBODOHI SEJARAH!!!

JANGAN SEKALI-KALI MEMUTAR BALIKKAN SEJARAH!!!

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI :

CIRI CIRI AD DABBAH

KESESATAN ZAKIR NAIK