BOM WAKTU KOMUNISME

REPORTASE

MERAWAT INGATAN, MEMBEBAT LUKA

4 OKTOBER 2016 KONTRIBUTOR ARTIKEL TINGGALKAN KOMENTAR

ANTIKOMUNISME.COM, BALI. Empat belas tahun berlalu. Masyarakat tak ingin amnesia. Anak-cucu akan dapat cerita. Suasana mencekam. Bau anyir darah menyeruak. Mayat bergelimpangan. Mereka setia merawat ingatan.

Melawan lupa. Ini seharusnya dilakukan setiap muslim. Bahkan semua elemen masyarakat. Atas kekejian yang dilakukan para radikalis dan komunis di negeri agraris.

Agar tak terulang, kita perlu banyak belajar. Membuang pemikiran menyimpang. Mengedepankan ilmu daripada nafsu. Mendahulukan kelemahlembutan dari kekerasan. Sehingga ledakan bukan jawaban. Kunjungan di monumen peringatan bukan sekadar ritual tahunan. Asyik foto selfie, tak sadar teroris siap beraksi lagi.

12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Bali yang sudah kesohor dengan keelokan alamnya, semakin terkenal. Bukan ada penemuan pantai baru yang masih perawan. Atau titik menyelam ter-updateyang belum pernah dikunjungi siapapun. Namun karena ratusan mayat turis mancanegara berjatuhan di tanah tetangga pulau Jawa itu.

Kini, satu dekade lebih. Pada 1 Muharram 1438 H, bertepatan 2 Oktober 2016. Masyarakat Bali didukung aparat pemerintahan, TNI serta Polri, tidak dalam rangka memperingati Oktober kelabu. Namun membuat antisipasi terpadu. Pencegahan virus terorisme dan komunisme. Luka mesti dibebat. Kesembuhan adalah harapan.

Berlangsung Kajian Islam Ilmiah (dauroh),Bahaya Radikalisme dan Komunisme Terhadap Negara, di Masjid Raya Ukhuwwah, Denpasar. Pembicara pengasuh Pondok As Salafy, Jember, Al Ustad Luqman Ba’abduh hafizhahullah. Sebagai moderator, Ustad Abu ‘Amr Alfian.

Hadir Ketua MUI Bali, H Taufik Asadi SAg. Staf ahli Pangdam IX/Udayana bidang Ilpengtek, Kolonel Abdidjon Sinaga mewakili Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko MBA. Kasubdit IV Dirintelkam Polda Bali, AKBP Priyanto P SIK, mewakili Kapolda Bali Irjen Pol Drs Sugeng Priyanto SH MH. Kasiwas Polresta Denpasar AKP Purnomo, mewakili Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo. Seksi Komunikasi dan Sosial Korem 163 Wirasatya, Mayor Arm I Putu Arimbawa, mewakili Danrem 163 Wirasatya Kolonel Inf Nyoman Cantiasa

Ketua MUI Bali, H Taufik Asadi SAg, menyambut baik kegiatan dauroh. Menurutnya, kita perlu saling memberi semangat dan menambah wawasan sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. “Tugas penting kita adalah menjadi mandataris Allah yang mengelola bumi sesuai rida-Nya. Kita syukuri  pula punya NKRI, karena atas berkat rahmat Allah negara ini bisa merdeka,” katanya.

Kolonel Abdidjon Sinaga menyampaikan permintaan maaf dari Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko, karena belum bisa hadir secara langsung. “Bapak Pangdam dan pejabat Kodam ada di Singaraja. Sedang ada kegiatan ‘Sehati’, Sehari Bersama TNI di Yonif Rider,” ujarnya seraya membacakan amanat Pangdam IX/Udayana terkait acara dauroh.

Pangdam IX/Udayana mengapresiasi kegiatan dauroh. Pihaknya menyambut baik peran serta masyarakat dalam menciptakan situasi yang kondusif. Paham radikalisme dan komunisme bertentangan dengan dasar negara Indonesia. Merusak tatanan kehidupan beragama dan bernegara.

Pangdam mengungkapkan bila radikalisme memaksakan keyakinan tertentu dengan jalan kekerasan. Sementara komunisme, tak mempercayai prinsip Ketuhanan yang dianut rakyat Indonesia. “Radikalisme menciptakan atmosfer kecemasan. Masyarakat dunia kini menyoroti ISIS. Paham Islam garis keras ini ternyata mengilhami sebagian WNI untuk mengikutinya. Di Medan, ada remaja belia membuat aksi teror. Atas yang demikian kita prihatin,” tuturnya dalam sambutan.

Paham komunisme, lanjut Pangdam, lewat kendaraan Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah berulangkali melakukan pemberontakan. Bahaya laten komunis merusak eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Di era reformasi, dinamika perjuangan komunis tidak mengenal kata kalah. Mereka bergerak di bawah permukaan. Menentang kebijakan politik negara.  Apabila stabilitas keamanan negara terganggu, maka komunis akan muncul,” paparnya.

Pangdam menegaskan gerakan komunis bersifat total da

n berlanjut. Mereka melakukan infiltrasi dan penetrasi ke pelbagai organisasi masyarakat (ormas), parpol, birokrasi dan lembaga pemerintah. Menggunakan segala cara. Dari yang halus hingga biadab. “Mengapa ada orang yang belum sadar? Butuh kerjasama antar komponen masyarakat guna pencegahan sejak dini. Indonesia barometer keamanan dunia. Karena sebagai destinasi wisata yang terkenal. Kalau Bali aman, Indonesia aman secara umum dalam pandangan negara asing,” ujarnya.

AKBP Priyanto P mengingatkan masyarakat agar paham doktrin terorisme di sekitarnya. Pertama, ingin membangun kekhalifahan atau negara Islam. Termasuk komunisme mencita-citakan membuat negara tanpa agama.

Kedua, takfiri. Mengkafirkan yang bukan kelompok mereka. Menebar ketakutan, membunuh orang tidak berdosa, merusak objek vital. Begitupun komunisme, doktrin ‘sama rata sama rasa’ yang tidak bisa diterapkan di Indonesia.

Ketiga, intoleransi. Padahal dalam Islam diajarkan hidup berdampingan. Seperti dalam ayat, untukmu agamamu, untukku agamaku. Terakhir, doktrin jihadisasi. Kelompok radikal selalu mengidentikan jihad dengan perang. “Info dari Densus 88, mereka loyal pada amir kelompoknya. Bukan pada presiden, gubernur, atau ulil ‘amri dari kalngan kita,” bebernya.

AKBP Priyanto mengklasifikasi kelompok radikal menjadi tiga bagian. Ada simpatisan, dia setuju aksi bom bunuh diri. Tapi tidak terlibat dalam aksi. Lalu pendukung; orang yang menyiapkan kosan, bahan peledak, dana, hingga pondok (kaderisasi). Terakhir kelompok inti. “Mereka ini yang taat pada amir, sekaligus pelaku bom bunuh diri,” tandasnya seraya menfingatkan agar setiap individu bisa menjadi ‘polisi bagi diri sendiri’. Guna menjaga keluarga dan lingkungan dari paham menyimpang.

Baca selengkap nya
⬇️⬇️⬇️
ANTIKOMUNISME.COM, SELASA (4/10/2016)

📋 MERAWAT INGATAN, MEMBEBAT LUKA : http://blog.antikomunisme.com/merawat-ingatan-membebat-luka/

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI :

CIRI CIRI AD DABBAH

KESESATAN ZAKIR NAIK