SUAMI IDEAL

❄❄ " Suami Ideal, Antara
Kenyataan Dan Harapan " ❄❄

➡ 1⃣
.....................................................

✏__Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi hafidzahullaah

Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai kehidupan yang penuh hikmah, menyimpan segudang asa, dan menyisipkan banyak rahasia. Ada suka, ada pula duka.
Walau jeram-jeram kehidupan selalu ada di hadapan, namun bunga bunga kasih sayang dan cintalah yang kerap menjadi auranya. Dari kehidupan rumah tangga ini, lahirlah cikal bakal orang-orang besar yang mengantarkan umat menuju kejayaannya.

Itulah salah satu tanda dari tanda- tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala di alam semesta.
Namun, hanya kaum yang berpikirlah yang dapat mencerna dan memahaminya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“ Dan di antara tanda tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

👞💄 Berumah Tangga, Kebutuhan Manusia yang Sangat Vital

Hidup berumah tangga merupakan kebutuhan manusia yang sangat vital.

Tak heran, bila setiap pemuda dan pemudi yang memasuki usia dewasa terfitrah untuk menjalaninya.
Secara manusiawi, jiwanya mendambakan seorang pendamping dalam hidupnya, membangun mahligai rumah tangga yang diliputi sakinah (ketenteraman), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Walaupun seseorang telah mencapai puncak keimanan yang tertinggi semisal rasul yang mulia, fitrah suci itu pun selalu bersemayam dalam kalbunya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (ar-Ra’d: 38)

🎢 ⛵ Pintu Gerbang Kehidupan Rumah Tangga

Dalam pandangan Islam, hidup berumah tangga tak bisa dijalani begitu saja.
Semuanya harus melalui proses nikah yang merupakan pintu gerbang kehidupan rumah tangga.

Sebuah pernikahan yang dibangun di atas keridhaan keduanya (mempelai laki-laki dan wanita), diketahui/disetujui oleh wali dari pihak wanita, dengan maskawin (mahar) yang ditentukan, disaksikan minimalnya oleh dua orang saksi, dan pernikahannya tidak dibatasi dengan batasan tertentu dari masa (bukan kawin mut’ah).

Dengan itulah, hubungan sepasang insan dinyatakan sah sebagai suami-istri dalam pandangan syariat Islam dan berhak menjalani hidup bersama mengarungi bahtera rumah tangga.

Demikian selektifnya Islam dalam mengesahkan hubungan sepasang insan.
Semua itu menunjukkan perhatian Islam terhadap moral, kehormatan, harkat, dan martabat manusia beserta keturunannya (masa depan mereka).

_ Dengan nikah, akan terjaga agama dan kehormatan seseorang.

_ Dengan nikah akan terjaga pula nasab anak keturunannya.

_  Jiwa pun menjadi tenteram, masyarakat pun menjadi nyaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu berumah tangga hendaknya menikah, karena sesungguhnya nikah (itu) lebih menundukkan pandangan (dari sesuatu yang haram dipandang, –pen. ) dan lebih menjaga kemaluan.
Bagi siapa belum mampu hendaknya berpuasa, karena sesungguhnya puasa (itu) sebagai perisai baginya (dari sesuatu yang haram , –pen. ).”
(HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu )

Manakala kehidupan rumah tangga dijalani tanpa proses nikah (kumpul kebo, selingkuh, dll.) maka ia adalah zina.
Islam mengharamkan zina dengan segala jenisnya. Karena ia termasuk perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.

Bahkan Islam mengharamkan segala sesuatu yang bisa mengantarkan kepada zina seperti; pacaran, berjabat tangan dengan selain mahram, berduaan dengan selain mahram (khalwat), dll.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“ Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al Isra’: 32)

_ Dengan zina, moral dan kehormatan seseorang akan hancur.

_ Dengan zina, nasab anak keturunan akan rusak.

_ Dengan zina pula, penyakit kelamin yang mematikan semisal AIDS menjalar di tengah tengah masyarakat.

Sehingga jiwa tak lagi tenteram, masyarakat pun tak lagi nyaman.
Wallahul musta’an .

...................................
.......................
.............
©opast;
🌐 http://asysyariah.com/
📆 Jambi, 27 Dzulhijjah 1435H/11 Oktober 2015M

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI :

CIRI CIRI AD DABBAH

KESESATAN ZAKIR NAIK