Meniti Jejak Salafus Shaleh

Post Page Advertisement [Top]

Dihikayatkan bahwasanya terjadi perbincangan di antara sekelompok orang Nashrani.

Salah seorang dari mereka berkata, ”Betapa dangkalnya akal kaum muslimin! Mereka meyakini bahwa Nabi mereka dahulu adalah seorang penggembala kambing. Bagaimana bisa seorang penggembala kambing pantas untuk mendapatkan nubuwwah (wahyu kenabian)?”

Seorang yang lain mengatakan, “Adapun mereka (kaum muslimin), maka demi Allah, mereka lebih berakal daripada kita. Sungguh Allah ta’ala dengan hikmah-Nya menjadikan seorang nabi sebagai penggembala hayawan yang bisu (hewan ternak). Apabila bagus dalam menjalankan tugas penggembalaannya, maka Allah ta’ala memindahkan tugasnya, yaitu menjadi “penggembala” hayawan yang berbicara (manusia), sebagai bentuk hikmah dari Allah dan bentuk tahapan seorang hamba-Nya (untuk menjadi seorang nabi dan rasul).

Namun kita (kaum Nashara), kita mendatangi seorang (bayi) yang dilahirkan, yang keluar dari (rahim) seorang wanita, yang biasa makan, minum, kencing, dan menangis (sebagaimana manusia yang lain), lalu kita katakan: “Inilah sesembahan kita yang telah menciptakan langit dan bumi.”

Serta merta mereka pun menahan (pembicaraan) tentangnya.

Sumber: *Miftah Daris Sa’adah*, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah _rahimahullah

@Ma'had As Salafy.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak menggunakan emoticon dalam menulis komentar, Barakallahu fiikum.

Bottom Ad [Post Page]

| Original Designed by Colorlib | Design Retouched by AI Project