Langsung ke konten utama

MENJAUHI BID'AH DAN AHLI BID'AH


Syaikh Ubaid al-Jabiri hafidzhahullah menyatakan: …”dan semua hal baru yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah. Jika ada seseorang muslim melakukan kebid’ahan, mengetahuinya, dan menentang, maka hendaknya (muslim lain) berlepas diri darinya dan memboikotnya jika memiliki kemampuan dalam meng-hajr (menjauhi)nya. Selama tidak ada menghasilkan mafsadah yang lebih besar dibandingkan maslahat yang diharapkan.

Dalam hal ini dilihat 2 keadaan:
1. Yang pertama, jika Ahlussunnah kuat maka mereka menghinakan Ahlul Bid’ah dan bersikap keras dalam ucapan, mengupayakan berbagai upaya untuk mengingkari, menghinakan, dan memperingatkan (umat) dari mereka, hingga mereka terhalangi dari kaum muslimin lain dan tidak bisa membuat kerusakan pada agama mereka.

2. Yang kedua, jika keadaannya adalah sebaliknya. Jika kedudukan Ahlul Bid’ah kuat, maka Ahlussunnah mencukupkan diri dengan membantah kebid’ahan hingga membersihkan agama Allah, dan hingga orang yang memiliki hati dan mau menyimak dengan baik, serta Diennya hidup (bisa mengambil manfaat, pent). Diharapkan saat seseorang memperingatkan (bahaya) kebid’ahan dan menjelaskan bahwa hal itu adalah bid’ah dengan dalil alQuran dan asSunnah (orang-orang semacam itu) bisa memahami dan meninggalkan kebid’ahan dan Ahlu Bid’ah. Kadangkala seorang muslim mendapatkan ujian sehingga tidak mampu memisahkan diri dari Ahlul Bid’ah karena mereka memiliki kekuasaan, atau karena jumlahnya banyak, atau karena kekuatan, dan sebagainya, maka dalam keadaan ini Allah tidaklah membebani di atas kemampuannya. Jika ia mampu untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar, memperingatkan dari bid’ah, maka silakan dilakukan. Namun jika ia dikalahkan dalam keadaannya (dalam posisi lemah) dan tidak mampu ber-amar ma’ruf nahi munkar, maka ia mencukupkan mengingkari dengan hati, dan menghibur diri dengan ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, wajib bagi kalian menjaga diri kalian (sendiri). Tidaklah orang – orang yang tersesat bisa menimbulkan mudharat bagi kalian jika kalian mendapat petunjuk (Q.S al-Maidah:105).

(transkrip ceramah Syaikh Ubaid al-Jabiri dalam menjelaskan Syarhus Sunnah lil Muzani).

Kendari, 13 Ramadhan 1438 H / 8 Juni 2017.
~~~~~~~~~~~~~~~~

Dikutip dari Buku "Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)"

Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

=====================
✍️ http://telegram.me/alistiqomah

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

PENGUMUMAN PENERIMAAN CALON SANTRI/SANTRIWATI BARU MA'HAD AL ITTIBA' SUMPIUH

Bismillah, berikut adalah daftar calon santri yang diterima di Ma'had Al Ittiba Sumpiuh:


DAFTAR SANTRI BARU

MARHALAH : IDAD TAKHASHSHUSH PUTRA NO NAMA ALAMAT 1 SABRI WIDITIA MAOS CILACAP 2 ZUFAR THUFAIL AL QUDAMA MAJENANG 3 ISMAEL ROMAN RIQUELME CENGKARENG TIMUR 4 MUHAMMAD ALFIAN RAHMANTO DEPOK 5 WILLY WOUNDROUS ISLAM CILACAP 6 MUHAMMAD HASAN BAROROH PALEMBANG

Audio Kajian Semarak Ramadhan 1440H dan Khutbah Iedul Fitri 1440H

CIRI CIRI AD DABBAH

➖➖➖➖➖➖➖➖
Ad Dabbah (Binatang Melata Yang Muncul Pada Akhir Zaman)
➖➖➖➖➖➖➖➖
Bagian 2⃣🕸 Ciri ciri Ad Dabbah.
▫Sebagian ulama menyebutkan ciri ciri ad Dabbah tersebut, namun tidak satu pun ciri ciri yang disebutkan di topang oleh dalil baik dari ayat Al Qur an maupun dari Hadits Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasallam Yang shahih. Maka cukuplah bagi kita untuk mengimani apa yang telah disebutkan Allah Ta'ala dan Rasul Nya tentang ad Dabbah, tanpa perlu menetapkan ciri cirinya secara mendetail, karena perkara tersebut termasuk hal ghaib yang tidak bisa diketahui dari wahyu berupa ayat al Qur an ataupun hadits Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasallam yang shahih.▫Al 'allamah as Sa'dy Rohimahullah berkata dalam lanjutan tafsir ayat 82 dari surat an Naml dia atas: Allah dan Rasul Nya tidaklah menyebutkan bagaimana wujud binatang melata ini, akan tetapi beliau menyebutkan dampak dan maksud dari dikeluarkannya binatang tersebut. Bahwasannya ia adalah termasuk dari tanda tanda kekuasaan A…

RIS


Radio Ittiba'us Salaf Sumpiuh