Langsung ke konten utama

FITNAH DIBALIK TA’ARUF VIA MEDSOS & BIRO JODOH

Celakanya, bagi sebagian orang, Facebook dan jejaring sosial lainnya menjadi jalan untuk melakukan taaruf, mengenal lawan jenis dengan tujuan menikahinya. Mungkin dalam sangkaannya hal ini dibolehkan dan tidak termasuk ikhtilath. Seorang pria berbicara langsung atau mengirim pesan kepada seorang wanita tanpa adanya pihak ketiga, alias berkhalwat.

Sebenarnya, berkirim-kiriman surat atau pesan antara pria dan wanita yang bukan mahram, dan berbicara secara langsung walau dengan alasan taaruf dan tujuan menikah, adalah hal yang tidak boleh menurut syariat, sama saja apakah dilakukan dengan cara normal atau melalui situs jejaring sosial. Sebab, hal itu berarti membuka pintu fitnah (bahaya, bencana) yang memungkinkan lahirnya sekian kejelekan.

Rasulullah bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidak ada sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi pria daripada (fitnah) wanita.” [HR. al–Bukhari, Muslim, dan lain-lain]

Atas dasar ini, wajib hukumnya menjauhi fitnah. Meninggalkan fitnah harus didahulukan daripada mencapai maslahat taaruf dan nikah.

Ada kaidah dalam syariat yang berbunyi:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Meninggalkan kerusakan diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.”

Untuk itu, syariat Islam datang dalam rangka mewujudkan kemaslahatan makhluk dan menjauhkan kerusakan dari mereka.

Di antara kerusakan itu adalah terfitnahnya (tergodanya) pria oleh wanita, dan sebaliknya. Lebih jauh lagi, syariat datang untuk menutup pintu-pintu menuju fitnah dan segala hal yang memicu terjadinya fitnah.

Maksud dari semua ini adalah membantu muslim dan muslimah menjauhi perangkap setan. Allah lebih tahu tentang kita daripada diri kita sendiri. Allah pun lebih menyayangi kita daripada diri kita sendiri. Maka dari itu, segala sesuatu yang disyariatkan oleh Allah kepada kita senantiasa selaras dengan ilmu, hikmah, dan rahmat-Nya.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Tidak diperbolehkan bagi siapa saja (pria) untuk berkirim surat atau pesan kepada wanita asing karena hal ini mengandung fitnah. Mungkin saja si pengirim mengira tidak ada fitnah. Akan tetapi, setan tetap bersamanya sehingga dapat menipu keduanya. Orang yang mendengar kabar tentang Dajjal diperintah oleh Nabi untuk menjauh darinya. Beliau mengabarkan bahwa Dajjal bisa saja mendatanginya, sementara dia dalam keadaan beriman. Akan tetapi, Dajjal akan tetap bersamanya sehingga menjadi fitnah baginya. Jadi, berkirim-kiriman surat atau pesan antara pemuda dan pemudi adalah fitnah yang besar, bahaya yang besar, wajib dijauhi … Adapun antara sesama pria dan antara sesama wanita, hal itu tidaklah mengapa, kecuali jika ada hal yang membahayakan.” [Majmu’ Fatawa]

Asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah menegaskan:
“Saya katakan kepada setiap muslimah yang ingin agama dan kehormatannya terjaga, janganlah dia menawarkan dirinya (taaruf) kepada kaum pria melalui situs internet. Kaum pria itu tidak dapat diketahui seluk-beluknya kecuali oleh sesama kaum pria, sebagaimana kami tidak dapat mengetahui segala sesuatu tentang wanita. Cara seperti ini (dalam taaruf) adalah ideologi Barat yang diadopsi oleh banyak muslim dan muslim.” [http://www•tasfiatarbia•org]

Untuk kalian, ikhwan
… Jagalah kesucian muslimah. Pasanglah tabir pembatas dalam berinteraksi dengan mereka. Jaga hati mereka dan jangan memberikan banyak harapan yang dapat melunturkan keimanan. Mereka ingin meneladani wanita-wanita mulia, yaitu para shahabiyyah (para wanita sahabat Nabi).

Untuk kalian, akhwat
… Jagalah hijab kalian. Jangan bangga karena banyak pria yang ingin bertaaruf dengan kalian. Jika mereka benar dan serius untuk taaruf, tentu akan memakai cara yang diajarkan oleh Rasulullah. Berhiaslah dengan akhlak Islam. Jangan mengumbar kegenitan pada pria yang bukan mahram. Biarkan apa yang ada pada diri kalian menjadi kado cantik untuk suami kalian. Sesungguhnya taaruf itu harus berdasarkan cara Islam, bukan dengan mengumbar rasa sebelum akad nikah.

Wallahu a'lam.

Sumber: https://qonitah.com/taaruf-via-facebook-masalah-atau-solusi/

Komentar

Artikel yang Sering Dibaca

URUTAN ULAMA' KIBAR YANG MASIH HIDUP DI ZAMAN INI

URUTAN ULAMA KIBAR DITINJAU DARI SISI UMUR/USIA (yang masih hidup di zaman sekarang) : Asy Syaikh Hasan bin Abdul Wahhab Marzuq Al Banna. [Lahir 1344 H / 1923 M. Usia 94 tahun.]Asy Syaikh Sholih Al Luhaidan. [Lahir 1350  H / 1929 M -- Usia 88 Tahun.]Asy Syaikh Robi’ Al Madkhali. [Lahir 1351 H / 1930 M -- Usia 87 Tahun.]Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad. [Lahir 1353 H / 1932 M -- Usia 85 Tahun.]Asy Syaikh Sholih Al Fauzan [Lahir 1354 H / 1933 M -- Usia 84 Tahun.]Asy Syaikh Ali bin Nashr Al Faqihi. [Lahir 1354 H / 1933 M -- Usia 84 Tahun.]Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri. [Lahir 1357 H / 1936 M -- Usia 81 Tahun.]
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152013
Tambahan : Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy Syaikh (Mufti Umum KSA). [Lahir 1362 H / 1941 M --Usia 76 Tahun.] _________
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Ilmu ini Dibawa oleh Orang-orang yang Adil (para Ulama’) pada Setiap Generasi. Mereka Menghilangkan Penyimpangan Makna (alQuran dan Hadits) ya…

KITAB "MARHABAN YA THALIB AL-ILMI"

🚪⛵ مرحبا يا طالب العلم
📝 العلامة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله تعالى
📇 دار الميراث النبوي📖 488 halaman💳 Rp. 188.000,-📚 Kitab “Marhaban Ya Thalib al-‘Ilmi” merupakan kumpulan ceramah-ceramah dan durus asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, seorang ‘alim besar masa ini, yang beliau sampaikan dalam berbagai kesempatan.Dalam kitab ini terkandung :
1⃣ PERTAMA : Peletakan dasar-dasar dan penjelasan kaidah-kaidah manhajiyyah  bagi seorang penuntut ilmu. Dua hal tersebut apabila diambil dari ulama kibar maka akan bermanfaat. Sebaliknya jika itu diambil dari shighar maka akan timbul bahaya.  Sementara penulis kitab ini tidak diragukan lagi adalah seorang ‘ulama kibar.2⃣ KEDUA : Di antara kelebihan kitab ini, mengandung bantahan terhadap syubhat-syubhat.3⃣ KETIGA : Kitab ini mengandung pula ADAB-ADAB PENUNTUT ILMU :
▫ Penuntut ilmu dan keikhlasan, penuntut ilmu dan bagaimana adab-nya kepada Allah
▪ Penuntut ilmu dan Sunnah, penuntut ilmu dan bagaimana ada-nya dengan pemilik Sunnah …

CIRI CIRI AD DABBAH

➖➖➖➖➖➖➖➖
Ad Dabbah (Binatang Melata Yang Muncul Pada Akhir Zaman)
➖➖➖➖➖➖➖➖
Bagian 2⃣🕸 Ciri ciri Ad Dabbah.
▫Sebagian ulama menyebutkan ciri ciri ad Dabbah tersebut, namun tidak satu pun ciri ciri yang disebutkan di topang oleh dalil baik dari ayat Al Qur an maupun dari Hadits Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasallam Yang shahih. Maka cukuplah bagi kita untuk mengimani apa yang telah disebutkan Allah Ta'ala dan Rasul Nya tentang ad Dabbah, tanpa perlu menetapkan ciri cirinya secara mendetail, karena perkara tersebut termasuk hal ghaib yang tidak bisa diketahui dari wahyu berupa ayat al Qur an ataupun hadits Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasallam yang shahih.▫Al 'allamah as Sa'dy Rohimahullah berkata dalam lanjutan tafsir ayat 82 dari surat an Naml dia atas: Allah dan Rasul Nya tidaklah menyebutkan bagaimana wujud binatang melata ini, akan tetapi beliau menyebutkan dampak dan maksud dari dikeluarkannya binatang tersebut. Bahwasannya ia adalah termasuk dari tanda tanda kekuasaan A…

RIS


Radio Ittiba'us Salaf Sumpiuh